Paradigma Dan Perspektif Penelitian Kualitatif

Terdapat sejumlah aliran filsafat yang mendasari penelitian kualitatif, seperti Fenomenologi, Interaksionisme simbolik, dan Etnometodologi. Harus diakui bahwa aliran-aliran tersebut memiliki perbedaan-perbedaan, namun demikian ada satu benang merah yang mempertemuan mereka, yaitu pandangan yang sama tentang hakikat manusia sebagai subyek yang mempunyai kebebasan menentukan pilihan atas dasar sistem makna yang membudaya dalam diri masing-masing pelaku. Paradigma kualitatif meyakini bahwa di dalam masyarakat terdapat keteraturan. Keteraturan itu terbentuk secara natural, karena itu tugas peneliti adalah menemukan keteraturan itu, bukan menciptakan atau membuat sendiri batasan-batasannya berdasarkan teori yang ada. Atas dasar itu, pada hakikatnya penelitian kualitatif adalah satu kegiatan sistematis untuk menemukan teori dari kancah – bukan untuk menguji teori atau hipotesis. Karenanya, secara epistemologis, paradigma kualitatif tetap mengakui fakta empiris sebagai sumber pengetahuan tetapi tidak menggunakan teori yang ada sebagai bahan dasar untuk melakukan verifikasi.

Dalam penelitian kualitatif, pengertian penelitian adalah sesuatu yang lebih penting dibanding dengan ‘hasil’ yang diperoleh. Karena itu peneliti sebagai instrumen pengumpul data merupakan satu prinsip utama. Hanya dengan keterlibatan peneliti alam proses pengumpulan datalah hasil penelitian dapat dipertanggungjawakan. Khusus dalam proses analisis dan pengambilan kesimpulan, paradigma kualitatif menggunakan induksi analitis (analytic induction) dan ekstrapolasi (extrpolation). Induksi analitis adalah satu pendekatan pengolahan data ke dalam konsep-konsep dan kateori-kategori (bukan frekuensi). Jadi simbol-simbol yang digunakan tidak dalam bentuk numerik, melainkan dalam bentuk deskripsi, yang ditempuh dengan cara merubah data ke formulasi. Sedangkan ekstrapolasi adalah suatu cara pengambilan kesimpulan yang dilakukan simultan pada saat proses induksi analitis dan dilakukan secara bertahap dari satu kasus ke kasus lainnya, kemudian (dari proses analisis itu dirumuskan) suatu pernyataan teoritis. Disisi lain, dalam metode pengetahuan dikenal dengan dua metode berpikir yaitu metode Deduktif dan metode Induktif yang masing-masing dikembangkan oleh Aristoteles dan Francis Bacon. Deduksi berasal dari bahasa Inggris deduction yang berarti penarikan kesimpulan dari keadaan-keadaan yang umum, menemukan yang khusus dari yang umum. Jadi metode berpikir yang berpangkal pada hal-hal yang bersifat umum/teori menuju pada hal-hal yang bersifat khusus/kenyataan. Contohnya, ada teori yang mengatakan bahwa ketika waktu malam hari selalu gelap, ketika ilmuwan melakukan penelitian pada malam hari karena matahari sudah tenggelam ketika menjelang malam itu sebabnya di malam hari memang selalu gelap, dinamakan metode deduktif. Sedangkan metode Induktif adalah metode berpikir yang berpangkal pada hal-hal yang bersifat khusus/kenyataan menuju pada hal-hal yang bersifat umum/teori contohnya jika ada udara maka makhluk hidup akan hidup.

Terdapat empat dasar teoritis dalam penelitian kualitatif adalah, sebagai berikut : (1) Pendekatan Fenomenologis adalah pemahaman tentang arti peristiwa dan kaitan-kaitannya terhadap orang-orang biasa dalam situasi situasi tertentu. Penelitian fenomenologi dapat dimulai dengan memperhatikan dan menelaah fokus fenomena yang hendak diteliti, yang melihat berbagai aspek subjektif dari perilaku objek. Kemudian, peneliti melakukan penggalian data berupa bagaimana pemaknaan objek dalam memberikan arti terhadap fenomena terkait. Penggalian data ini dilakukan dengan melakukan wawancara mendalam kepada objek atau informan dalam penelitian, juga dengan melakukan observasi langsung mengenai bagaimana objek peneltiian menginterpretasikan pengalamannya kepada orang lain. Contohnya Peneliti Mengadakan pengamatan terhadap Upacara Mappadendang di Sidrap Sulawesi Selatan. Dalam Ritual ini, masyarakat menyelenggarakan pesta panen syarat dengan ritual keagamaan, dan disini peneliti diharuskan menginterprestasikan tingkah laku orang-orang yang menyiapakan segala sesajen dan menghadirkan ketua adat serta imam sesuai dengan yang diinterprestasikan penonton upacara ritual tersebut. Selain itu, contoh lain adalah Fenomena HIV atau AIDS, berusaha untuk mengungkap apa kesamaan pengalaman hidup yang dialami oleh para penderita HIV/AIDS yang mendapat perlakuan diskriminatif dalam masyarakat serta bagaimana mereka mengalaminya. (2). Pendekatan Interaksi Simbolik yang berasumsi bahwa obyek orang, situasi dan peristiwa tidak memiliki pengertianya sendiri, melainkan pengertian itu diberikan kepada mereka. Contohnya, di suatu kampung selalu diadakan pertemuan rapat antar warga, sering mengembangkan definisi bersama, karena mereka sudah terbiasa atau secara teratur berinteraksi dan mengalami situasi yang sama, serta masalah dan latar belakang yang sama, tetapi tidak harus ada kesepakatan.

Selain itu, contoh lain seperti apabila kita melihat sekelompok laki-laki dewasa pada suatu pagi berkumpul di suatu tempat dengan berpakaian santai (kaos oblong dan celana pendek atau celana panjang), sebagian besar dari mereka ada yang membawa cangkul, sabit, sapu, gerobak kecil, maka kita akan segera dapat menginterpretasikan bahwa mereka adalah sekelompok anggota masyarakat yang akan melakukan kerja bakti. Ada juga ketika seorang wanita di sore hari berjalan sendirian melewati sejumlah pemuda yang bergerombol, yang mana salah satu dari pemuda tersebut melempar batu kecil pada wanita tersebut, maka tindakan pemuda tersebut semestinya diterjemahkan oleh wanita tadi sebagai tindakan menggoda. Lalu, ketika ada warna pink atau merah muda menjadi simbol wanita dalam menginterpretasikan kelembutan dan kefemininan mereka. Biru menjadi simbol dari warna lelaki atau maskulinitas dari seorang pria. Hal ini diyakini oleh wanita dan pria di seluruh dunia. (3). Pendekatan Kebudayaan yaitu memahami perilaku seseorang harus dalam koridor kebudayaan orang tersebut. Contohnya : jika kita anak muda bertemu orang tua atau yang lebih dewasa kita biasanya Memberi salam atau membungkuk terhadap orang tua tersebut sebagai rasa hormat dan itu merupakan budaya msyarakat jawa atau masyarakat indonesia pada umumnya karena kita menganut budaya ketimuran tradisional yang kental sehingga perilaku ini jarang dilihat warga asing di negara asalnya, (4) Pendekatan etnometodologi adalah studi tentang bagaimana individu menciptakan kehiduoan sehari-hari, subyek nya adalah orang-orang dalam berbagai situasi. Contohnya Jika ada tetangga kita yang Putranya akan melaksanakan Khitanan maka informasi tersebut akan tersebar dan para tetangga akan datang untuk memberi selamat dan juga memberi sumbagan kepada yang punya acara khitanan tersebut serta para tetangga tadi dihidangkan makanan oleh yang punya acara.

(5). Etnografi. Berangkat dari dasar ilmu antropologi atau kajian budaya, etnografi merupakan metode penelitian yang melihat kajian bahasa dalam perilaku sosial dan komunikasi masyarakat dan bagaimana bahasa tersebut diterapkan berdasarkan konsep budaya yang terkait. Kajian etnografi memiliki dua dasar konsep yang menjadi landasan penelitian, yaitu aspek budaya (antropologi) dan bahasa (linguistik), dimana bahasa dipandang sebagai sistem penting yang berada dalam budaya masyarakat. Metode penelitian etnografi memiliki tujuan untuk mengkaji bentuk dan fungsi bahasa yang tersedia dalam budaya serta digunakan untuk berkomunikasi individu di dalamnya, serta melihat bagaimana bentuk dan fungsi bahasa tersebut menjadi bagian dari kehidupan masyarakat. Selain itu, metode etnografi juga menginterpretasikan kelompok sosial, sistem yang berlaku dan peran yang dijalankan, serta interaksi sosial yang terjadi dalam suatu masyarakat. Metode etnografi biasanya digunakan untuk berfokus pada kegiatan atau ritual tertentu dalam masyarakat, bahasa, kepercayaan, cara-cara hidup, dan lain sebagainya. (6). Studi Kasus. Sesuai dengan namanya, metode penelitian studi kasus meneliti suatu kasus atau fenomena tertentu yang ada dalam masyarakat yang dilakukan secara mendalam untuk mempelajari latar belakang, keadaan, dan interaksi yang terjadi. Studi kasus dilakukan pada suatu kesatuan sistem yang bisa berupa suatu program, kegiatan, peristiwa, atau sekelompok individu yang ada pada keadaan atau kondisi tertentu. Karena khusus meneliti suatu hal atau sistem tertentu, penelitian studi kasus bukanlah dilakukan untuk menarik kesimpulan terhadap fenomena dari suatu populasi atau kumpulan tertentu melainkan khusus untuk kejadian atau fenomena yang diteliti saja. Meski mencakup satu kesatuan sistem, penelitian studi kasus tidak harus meneliti satu orang atau idnividu saja, namun bisa dengan beberapa orang atau objek yang memiliki satu kesatuan fokus fenomena yang akan diteliti. Untuk mendapatkan data yang mendalam, penelitian studi kasus menggunakan teknik wawancara, observasi, sekaligus studi dokumenter yang kemudian akan dianalisis menjadi suatu teori. Studi kasus akan memahami, menelaah, dan kemudian menafsirkan makna yang didapat dari fenomena yang diteliti tersebut.

(7). Metode Historis Penelitian selanjutnya adalah metode historis, yaitu penelitian yang memiliki fokus penelitian berupa peristiwa-peristiwa yang sudah berlalu dan melakukan rekonstruksi masa lalu denga sumber data atau saksi sejarah yang masih ada hingga saat ini. Sumber data tersebut bisa diperoleh dari berbagai catatan sejarah, artifak, laporan verbal, maupun saksi hidup yang dapat dipertanggungjawabkan kebenaran persaksiannya. Karena mengkaji peristiwa yang sudah berlalu, ciri khas dari penelitian historis adalah waktu; dimana fenomena dilihat perkembangan atau perubahannya berdasarkan pergeseran waktu. Ciri lain dari metode historis adalah kajian penelitian lebih banyak bergantung pada data observasi orang lain yang sudah terlebih dahulu melakukan penelitian, bukan hanya data observasi milik peneliti itu sendiri. Selain itu, sumber data yang digunakan haruslah bersifat objektif, sistematis, akurat, serta otentik yang dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya serta berasal dari sumber yang tepat. Karena metode historis memiliki konse dasar waktu, perlu diperhatikan dengan lebih teliti mengenai urutan peristiwa dan waktu-waktunya dengan detail dan jelas. Terakhir, (8). Pendekatan Etnometodologi, studi tentang bagaimana individu menciptakan kehidupan sehari-hari. Subyek etnometodologi adalah orang-orang berbagai macam situasi. Etnometodologi berupaya untuk memahami bagaimana masyarakat memandang, menjelaskan dan menggambarkan tata hidup mereka sendiri.

Demikianlah tulisan saya kali ini, kalian dapat melihat tulisan-tulisan saya yang lain seperti hasil penelitian dengan judul Budaya Gosip yang dapat kalian lihat disini atau kalian dapat melihat yang lain dengan judul Observasi Partisipasi yang dapat kalian lihat disini.
Sampai disini dulu, salam_Dwi

Berikut artikel tentang paradigma metode penelitian kualitatif