Perumusan Masalah Penelitian Kualitatif


Assalamualaikum, hai sobat semuanya, sebelumnya saya telah menulis artikel tentang dengan judul Teori konflik Ralf Dahrendorf yang dapat kalian lihat disini. Nah, kali ini saya akan menulis tentang bagaimana menuliskan rumusan masalah dalam penelitian kualitatif. Bagaimana fungsi dari rumusan masalah sebelum melakukan penelitian kuatatif, berikut saya sajikan, silahkan dibaca.

Perumusan masalah adalah salah satu tahapan diantara sejumlah tahapan penelitianyang memiliki kedudukan yang sangat penting dalam kegiatan penelitian. Tanpa perumusan masalah, suatu kegiatan penelitian akan sia-sia dan bahkan tidak akan membuahkan hasil apa-apa. Perumusan masalah atau research question atau disebut juga research problem, diartikan sebagai fenomena mandiri, maupun dalam kedudukanya sebagai fenomena yang saling terkait diantara fenomena yang satu dengan yang lainya, baik sebagai penyebab maupun sebagai akibat. Mengingat demikian pentingnya kedudukan perumusan masalah di dalam kegiatan penelitian, sampai memunculkan anggapan yang menyatakan bahwa kegiatan melakukan perumusan masalah merupakan kegiatan separuh dari penelitian itu sendiri.

Perumusan masalah penelitian dapat dibedakan dalam dua sifat yaitu perumusan masalah diskriftif dan eksplanatoris. Perumusan masalah diskriftif apabila tidak menghubungkan antar fenomena dan perumusan masalah eksplanatoris apabila rumusanya menunujukkan adanya hubungan atau pengaruh antara dua atau lebih fenomena.

Perumusan masalah memiliki fungsi (1) sebagai penyebab kegiatan penelitian itu ada dan dan dapat dilakukan, (2) sebagai pedoman, penentu arah, atau focus dari suatu penelitian, (3) sebagai penentu jenis data macam apa yang perlu dan harus dikumpulkan oleh peneliti serta jenis data apa yang tidak perlu dan harus disisihkan oleh peneliti, (4) dengan adanya perumusan masalah penelitian maka para peneliti menjadi dapat dipermudah didalam menentukan siapa yang akan menjadi populasi dan sampel penelitian. Ada tiga criteria yang diharapkan dapat dipenuhi dalam perumusan masalah penelitian yaitu (1) perumusan masalah berwujud kalimat Tanya atau kalimat yang bersifat interogatif ,(2) suatu penenlitian harus bermanfaat atau diharapkan dapat memberikan sumbangan teoritik,(3) perumusan masalah yang baik hendaknya dirumuskan didalam konteks kebijakan pragmatis yang sedang actual sehingga dapat diterapakan secara nyata bagi proses pemecahan masalah.

Berkenaan dengan penempatan rumusan masalah penelitian didapat beberapa variasi antara lain (1) ditempatkan dibagian paling awal dari suatu sistematika penelitian, (2) ditempatkan setelah latar belakang atau bersama-sama dengan latar belakang penelitian , (3) ditempatkan setelah tujuan penelitian.

Di manapun rumusan masalah penelitian di tempatkan sebenarnya tidak terlalu penting dan tidak akan mengganggu kegiatan penelitian yang bersangkutan karena yang penting adalah bagaimana kegiatan penelitian itu dilakukan dengan memperhatikan rumusan maslah sebagai pengarah dari kegiatan penelitianya. Artinya kegiatan penelitian yang dilakukan oleh siapa pun,hendaknya memiliki sifat yang kosisten dengan judul dan perumusan masalah yang ada. Kesimpulan yang didapat dari suatu kegiatan penelitian hendaknya kembali mengacu pada judul dan permasalahan penelitian yang telah dirumuskan.

Demikianlah tulisan saya kali ini, kalian dapat melihat dan membaca tulisan-tulisan saya yang serupa dengan judul Ruang Lingkup Metode Penelitian Kualitatif yang dapat kalian lihat disini. Terima kasih sudah membaca, terima kasih,
Salam_Dwi.

Referensi : Referensinya,, hmm sobat cari sendiri yaah karena belajar sangat butuh pengorbanan berupa kerja keras membaca buku (jurnal, makalah, media dll), diskusi dan menulis sebagai pengaktualisasian diri kalian.
(Sumber gambar : Galelia).