Assalamualaikum sobat
Bulan seribu bulan adalah bulan yang dikhususkan pada bulan ramadan, yaitu salah satu bulan yang istimewa dari bulan-bulan lain selama setahun kita menjalani kehidupan. Banyak yang sering menyepelekan kehadiran bulan ini, padahal jika ditelaah dari berbagai periwayatan, bulan ini adalah bulan yang mulia karena diwaktu inilah Al-quran diturunkan. Ironis memang!, banyak umat muslim yang hanya sekedar berpuasa tanpa memanfaatkan bulan ini sebagai ajang memperbaiki diri dengan memperbanyak ibadah. Apalagi yang tak berpuasa, miris yah sobat sehingga dapat menimbulkan sebuah penyakit. Nah, apa-apa saja kiat yang perlu kita lakukan agar terhindar dari penyakit hal demikian, yuk mari sama-sama membacanya.

Dalam hidup, selain arah/alur dalam melangkah kita juga harus memiliki konsep sebagai tolak ukur dalam hidup. Nah, salah satu konsep penting itu menyangkut menajemen diri sebagai seorang insan. Sebagaimana idealnya muslim yang baik, tentu segala aktifitas hidupnya memerlukan manajemen yang jelas dan sistemaris. Termasuk dalam menjalani ibadah di bulan ramadan. Kali ini, Dwi akan membagikan beberapa tips dalam mengejar keutamaan ramadan sebagai wujud kemuliaan kita sebagai hamba yang taat. Apa sajakah itu, yuk silahkan dibaca, sebagai berikut :

1. Mengatur Waktu Tidur

Ini nih yang sering dan saya pikir banyak yang disalah artikan umat muslim. Atas dasar "tidur adalah ibadah" diplesetkan dengan menganggap berpuasa butuh istirahat yang banyak dengan tidak mengerjakan hal lain selama seharian. Seperti bekerja mencari nafkah untuk keluarga, belajar utnuk menuntut ilmu dan lain sebagainya. Justru, jika kita memperbanyak tidur proses pembakaran dalam tubuh terjadi sehingga energi terserap ileh proses pembakaran so, tubuh akan bereaksi menjadi lemas. Nah, ada beberapa hal yang cukup efektif saya pikir dalam mengatasi problem ini, yaitu pertama, buatlah program dalam buku catatan atau kalau perlu dijadwal kegiatan selama sebulan penuh. Isinya memuat semua kegiatan yang telah direncanakan seperti dipagi hari akan melakukan apa, lanjut siang, sore, menyusul malam hari setelah berbuka akan mengerjakan apa hingga tengah malamnya. Pertanyaan yang muncul kemudian, loh tidurnya kapan? nah, idealnya seorang muslim yang ingin mendapat keberkahan di bulan mulia ini salah satunya adalah dengan mengurangi tidur. Untuk mensiasati agar tubuh kita tetap fit dalam berpuasa dengan mengkonsumsi berbagai asupan enegri dan vitamin saat sahur dan berbuka.

Kemudian apa lagi, nah berikutnya adalah usahakan agar dapat bersilaturahim dengan orang-orang yang saleh sehingga dapat memacu dan memotivasi kita untuk selalu beribadah. Misalnya dengan mengikuti kegiatan-kegiatan islami seperti tentu tidak putus menuntut ilmu islam melalu pengajian, tauziah dll. Di malam harinya, usahakan agar tidak tidur telalu malam agar kondisi tubuh kita saat beraktifitas pagi harinya bisa tetap segar hingga petang. Dan ingat yah sobat, jangan lupa perbanyaklah berdoa agar hati kita senantiasa terlindungi oleh gangguan syetan dengan bermalas-malasan. Bukankah Allah Swt menganjurkan kepada kita untuk mengatur waktu sebaik-baiknya, membagi waktu untuk ibadah, berusaha, bergaul dan beristirahat sehingga tubuh kita selalu bugar saat menjalankan puasa. Jika mengantuk tidak tertahankan, kita boleh tidur tetapi tidak berlebihan.

2. Mengatur Makan

Hehe, ini juga nih yang tak terelakkan banyak orang. Karena seharian telah menahan lapar dan dahaga, saat berbuka tiba seakan semua hidangan makanan akan dilahap semuanya sebagai pelampiasan. Tentu hal tersebut keliru yah sobat, esesnsi dalam berpuasa salah satunya adalah dapat menahandiri dari makan dan minum yang berlebihan. Nah coba kita pikir-pikir, wajar saja kalau hikmah puasa itu tidak terasa karena kita selalu menyiapkan makanan dan minuman untuk berbuka, bukannya mempersiapkan amalan ramadan. Memang siang hari kita lapar, tetapi ketika kumandang azan Magrib, makanan dan minuman dilahap habis sehingga perut buncitdan sulit untuk beribadah. Hehe, jadinya hikmah puasa itu lenyap dibuang oleh diri kita sendiri dengan memikirkan makanan dan minuman yang lezat, naudzubillah yah sobat. Hmm, ingat bahwa bertujuan untuk menahan makan dan minum yang berlebihan. Usahakan agat tidak tergoda atau terbuai dengan iklan makanan dan minuman yang kelihatan enak saat siang hari karena saat kita berbuka puasa akan cepat kenyang. Upayakan makan dan minumlah dengan gizi seimbang dan teratur menjaga kondisi tubuh kita supaya amalan-amalan ramdahan tidak ada yang terlewatkan. Biasakan makan yang kadarnya manis saat berbuka puasa dan makanan yang mengandung protein supaya pada siang hari terasa bugar. Lalu persiapkanlah makanan dan minuman untuk berbuka dan sahur dengan memperhatikan prinsip halal, bergizi dan tidak mubadzir, hehe sering yah terlalu banyak dipersiapkan justru tidak dihabiskan lalu dibuang percuma, naudzubillah.

Bagaimana solusinya?
Wah, saya juga masih perlu banyak belajar yah sobat apalagi mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari, saya juga masih perlu banyak intropeksi diri terkhusus di bulan ramadan ini. Akantetapi tidak ada salahnya saling menasehari, apalagi dalam prinsip baik untuk hidup lebih baik. Berikut solusi yang bisa saya tawarkan, seperti : 

1. Menguatkan Jiwa.

Dengan ibadah puasa, maka manusia akan berhasil mengendalikan hawa nafsunya yang membuat jiwanya menjadi kuat, bahkan dengan demikian, manusia akan memperoleh derajat yang tinggi seperti layaknya malaikat yang suci dan ini akan membuatnya mampu mengetuk dan membuka pintu-pintu langit hingga segala do’anya dikabulkan oleh Allah Swt, Rasulullah Saw bersabda, “Ada tiga golongan orang yang tidak ditolak do’a mereka: orang yang berpuasa hingga berbuka, pemimpin yang adil dan do’a orang yang dizalimi”.(HR. Tirmidzi).

2. Mendidik Kemauan.

Puasa mendidik seseorang untuk memiliki kemauan yang sungguh-sungguh dalam kebaikan, meskipun untuk melaksanakan kebaikan itu terhalang oleh berbagai kendala. Puasa yang baik akan membuat seseorang terus mempertahankan keinginannya yang baik, meskipun peluang untuk menyimpang begitu besar. Karena itu, Rasulullah Saw menyatakan: “puasa itu setengah dari kesabaran”. Dalam kaitan ini, maka puasa akan membuat kekuatan rohani seorang muslim semakin prima. Kekuatan rohani yang prima akan membuat seseorang tidak akan lupa diri meskipun telah mencapai keberhasilan atau kenikmatan duniawi yang sangat besar, dan kekuatan rohani juga akan membuat seorang muslim tidak akan berputus asa, meskipun penderitaan yang dialami sangat sulit.

3. Menyehatkan Badan.

Disamping kesehatan dan kekuatan rohani, puasa yang baik dan benar juga akan memberikan pengaruh positif berupa kesehatan jasmani. Hal ini tidak hanya dinyatakan oleh Rasulullah Saw, tetapi juga sudah dibuktikan oleh para dokter atau ahli-ahli kesehatan dunia yang membuat kita tidak perlu meragukannya lagi. Mereka berkesimpulan bahwa pada saat-saat tertentu, perut memang harus diistirahatkan dari bekerja memproses makanan yang masuk sebagaimana juga mesin harus diistirahatkan, apalagi di dalam Islam, isi perut kita memang harus dibagi menjadi tiga, sepertiga untuk makanan, sepertiga untuk air dan sepertiga untuk udara.

4. Mengenal Nilai Kenikmatan.

Dalam hidup ini, sebenarnya sudah begitu banyak kenikmatan yang Allah berikan kepada manusia, tetapi banyak pula manusia yang tidak pandai mensyukurinya. Dapat satu tidak terasa nikmat karena menginginkan dua, dapat dua tidak terasa nikmat karena menginginkan tiga dan begitulah seterusnya. Padahal kalau manusia mau memperhatikan dan merenungi, apa yang diperolehnya sebenarnya sudah sangat menyenangkan karena begitu banyak orang yang memperoleh sesuatu tidak lebih banyak atau tidak lebih mudah dari apa yang kita peroleh. Maka dengan puasa, manusia bukan hanya diperintahkan memperhatikan dan merenungi tentang kenikmatan yang sudah diperolehnya, tapi juga disuruh merasakan langsung betapa besar sebenarnya nikmat yang Allah Swt berikan kepada kita.

5. Mengingat dan Merasakan Penderitaan Orang Lain.

Merasakan lapar dan haus juga memberikan pengalaman kepada kita bagaimana beratnya penderitaan yang dirasakan orang lain. Sebab pengalaman lapar dan haus yang kita rasakan akan segera berakhir hanya dengan beberapa jam, sementara penderitaan orang lain entah kapan akan berakhir. Dari sini, semestinya puasa akan menumbuhkan dan memantapkan rasa solidaritas kita kepada kaum muslimin lainnya yang mengalami penderitaan yang hingga kini masih belum teratasi.

Semoga, penjelasan ini memberikan arahan dalam menjalankan puasa, sehingga menjadi puasa yang sempurna agar terhindar dari penyakit ramadan. Dapat juga menjadi masukan untuk saya secara pribadi, saya juga pun masih terus mengasah ilmu dan berusaha memperbaiki diri menjadi lebih baik. Sampai disini dulu artikel saya, kalian dapat membaca juga artikel saya yang lain dengan judul Menjadi Pemenang di Ramadan yang dapat kalian lihat disini. Wassalamualaikum

Sumber Referensi :
Terinspirasi dari perkataan Enjang Idrus, M.Pd.I (beliau dalah seorang dosen) dan Kak Ida (beliau guru saya dalam menimba ilmu Islam). Sumber foto tribunnews.com


Assalamualaikum, hai sobat semuanya, sebelumnya saya telah menulis artikel tentang dengan judul Teori konflik Ralf Dahrendorf yang dapat kalian lihat disini. Nah, kali ini saya akan menulis tentang bagaimana menuliskan rumusan masalah dalam penelitian kualitatif. Bagaimana fungsi dari rumusan masalah sebelum melakukan penelitian kuatatif, berikut saya sajikan, silahkan dibaca.

Perumusan masalah adalah salah satu tahapan diantara sejumlah tahapan penelitianyang memiliki kedudukan yang sangat penting dalam kegiatan penelitian. Tanpa perumusan masalah, suatu kegiatan penelitian akan sia-sia dan bahkan tidak akan membuahkan hasil apa-apa. Perumusan masalah atau research question atau disebut juga research problem, diartikan sebagai fenomena mandiri, maupun dalam kedudukanya sebagai fenomena yang saling terkait diantara fenomena yang satu dengan yang lainya, baik sebagai penyebab maupun sebagai akibat. Mengingat demikian pentingnya kedudukan perumusan masalah di dalam kegiatan penelitian, sampai memunculkan anggapan yang menyatakan bahwa kegiatan melakukan perumusan masalah merupakan kegiatan separuh dari penelitian itu sendiri.

Perumusan masalah penelitian dapat dibedakan dalam dua sifat yaitu perumusan masalah diskriftif dan eksplanatoris. Perumusan masalah diskriftif apabila tidak menghubungkan antar fenomena dan perumusan masalah eksplanatoris apabila rumusanya menunujukkan adanya hubungan atau pengaruh antara dua atau lebih fenomena.

Perumusan masalah memiliki fungsi (1) sebagai penyebab kegiatan penelitian itu ada dan dan dapat dilakukan, (2) sebagai pedoman, penentu arah, atau focus dari suatu penelitian, (3) sebagai penentu jenis data macam apa yang perlu dan harus dikumpulkan oleh peneliti serta jenis data apa yang tidak perlu dan harus disisihkan oleh peneliti, (4) dengan adanya perumusan masalah penelitian maka para peneliti menjadi dapat dipermudah didalam menentukan siapa yang akan menjadi populasi dan sampel penelitian. Ada tiga criteria yang diharapkan dapat dipenuhi dalam perumusan masalah penelitian yaitu (1) perumusan masalah berwujud kalimat Tanya atau kalimat yang bersifat interogatif ,(2) suatu penenlitian harus bermanfaat atau diharapkan dapat memberikan sumbangan teoritik,(3) perumusan masalah yang baik hendaknya dirumuskan didalam konteks kebijakan pragmatis yang sedang actual sehingga dapat diterapakan secara nyata bagi proses pemecahan masalah.

Berkenaan dengan penempatan rumusan masalah penelitian didapat beberapa variasi antara lain (1) ditempatkan dibagian paling awal dari suatu sistematika penelitian, (2) ditempatkan setelah latar belakang atau bersama-sama dengan latar belakang penelitian , (3) ditempatkan setelah tujuan penelitian.

Di manapun rumusan masalah penelitian di tempatkan sebenarnya tidak terlalu penting dan tidak akan mengganggu kegiatan penelitian yang bersangkutan karena yang penting adalah bagaimana kegiatan penelitian itu dilakukan dengan memperhatikan rumusan maslah sebagai pengarah dari kegiatan penelitianya. Artinya kegiatan penelitian yang dilakukan oleh siapa pun,hendaknya memiliki sifat yang kosisten dengan judul dan perumusan masalah yang ada. Kesimpulan yang didapat dari suatu kegiatan penelitian hendaknya kembali mengacu pada judul dan permasalahan penelitian yang telah dirumuskan.

Demikianlah tulisan saya kali ini, kalian dapat melihat dan membaca tulisan-tulisan saya yang serupa dengan judul Ruang Lingkup Metode Penelitian Kualitatif yang dapat kalian lihat disini. Terima kasih sudah membaca, terima kasih,
Salam_Dwi.

Referensi : Referensinya,, hmm sobat cari sendiri yaah karena belajar sangat butuh pengorbanan berupa kerja keras membaca buku (jurnal, makalah, media dll), diskusi dan menulis sebagai pengaktualisasian diri kalian.
(Sumber gambar : Galelia).


Assalamualaikum, hai sobat semuanya, sebelumnya saya telah menulis artikel tentang multilineal dengan judul Teori Multilineal yang dapat kalian lihat disini. Kali ini saya akan menuliskan kajian tentang teori konflik, nah disini saya membahasnya lebih spesifik khusus yang dicetuskan oleh  Ralf Dahrendorf. Bagaimana teori konflik menurutnya dan apa-apa saja tipe dalam struktur yang menjadi penyebab konflik menurut nya, yuk silahkan dibaca.

Teori konflik Ralf Dahrendorf didasarkan pada anggapan yang menyatakan bahwa semua sistem sosial itu dikoordinasi secara imperatif. Koordinasi yang mengharuskan adanya otoritas merupakan sesuatu yang sangat esensial sebagai suatu yang mendasari semua organisasi sosial. Atas dasar hal tersebut di atas maka dalam suatu sistem sosial mengharuskan adanya otoritas serta relasi-¬relasi kekuasaan yang menyangkut pihak-¬pihak atasan dan bawahan yang akan menyebabkan timbulnya kelas sehingga ada pembagian yang jelas antara yang berkuasa dengan yang dikuasai.

Teori konflik Ralf Dahrendorf juga membicarakan mengenai intensitas bagi individu atau kelompok yang terlibat dalam konflik. Ada dua faktor yang mempengaruhi intensitas, yaitu tingkat keserupaan konflik dan mobilitas. Di sisi lain, teori konflik Ralf Dahrendorf juga membicarakan tentang kekerasan. Dalam hal ini, konsep kekerasan adalah mengacu pada alat yang digunakan oleh pihak¬-pihak yang saling bertentangan untuk mengejar kepentingannya. Tingkat kekerasan mempunyai berbagai macam perwujudan dari cara-¬cara yang halus sampai pada cara¬-cara kasar. 

Teori konflik yang dikemukakan oleh Ralf Dahrendorf menyatakan bahwa konsekuensi atau fungsi konflik dapat mengakibatkan adanya perubahan sosial, yaitu khusus yang berkaitan dengan struktur otoritas ( kekuasaan yang dilegitimasikan). Ada tiga tipe perubahan struktur, yaitu (1) perubahan keseluruhan personil dalam posisi dominasi; (2) perubahan sebagian personil dalam posisi dominasi dan (3) digabungkannya kepentingan-¬kepentingan kelas subordinat dalam kebijaksanaan kelas yang mendominasi. Dahrendorf sendiri menyatakan bahwa teorinya itu bersifat berat sebelah karena hanya mampu mendekati sebagian saja dari kenyataan sosial yang seharusnya. Namun, menurut Poloma (1986)dasar dari teori konflik Dahrendorf adalah penolakan dan penerimaan sebagian serta perumusan kembali teori Karl Marx. Menurut Karl Marx kaum borjuis adalah sebagai pemilik dan pengelola sistem kapitalis, sedangkan para pekerja demi kelangsungan hidupnya tergantung pada sistem tersebut.

Pandangan Karl Marx yang demikian itu menurut Ralf Dahrendorf mengalami pergeseran karena pada abad ke¬-20 ternyata telah terjadi pemisahan antara pemilihan dengan pengendalian sarana¬-sarana produksi. Di samping itu juga pada akhir abad ke¬-19 telah menunjukkan adanya suatu pertanda bahwa para pekerja bukan lagi merupakan suatu kelompok yang dianggap sama dan bersifat tunggal karena pada masa tersebut telah muncul para pekerja dengan status yang berbeda dan jelas, dalam arti ada kelompok pekerja tingkat atas dan ada kelompok tingkat bawah.

Hal yang semacam ini merupakan suatu kenyataan yang sama sekali di luar pemikiran Karl Marx. Kecuali itu, menurut Ralf Dahrendorf, Karl Marx sama sekali tidak membayangkan bahwa dalam perkembangan selanjutnya akan muncul serikat buruh dengan segenap mobilitas sosialnya. Dengan adanya serikat buruh, serta mobilitas sosialnya maka pengertian akan terjadinya revolusi yang dilakukan oleh kaum buruh dapat dihindarkan. Adapun sebagai alasan mengapa revolusi buruh sebagaimana dikatakan Karl Marx tidak akan terjadi karena dengan adanya serikat buruh dan mobilitas sosialnya maka konflik¬-konflik yang mungkin terjadi di antara buruh dan majikan telah diselesaikan dengan sistem pengaturan atau institusionalisasi. apabila pembagian kekuasaan dan wewenang tidak merata akan menentukan adanya konflik sosial. Dengan adanya perbedaan wewenang, hal tersebut menunjukkan bahwa dalam masyarakat terdapat berbagai macam posisi. Perlu diketahui bahwa kekuasaan dan wewenang selalu akan menentukan adanya posisi di atas dan posisi di bawah. Dengan adanya kekuasaan maka secara jelas akan memisahkan antara pihak penguasa dan pihak yang dikuasai, dan hal tersebut akan menimbulkan adanya konflik.

Adanya pihak yang berkuasa dan pihak yang dikuasai menunjukkan bahwa dalam masyarakatmengandung suatu kepentingan yang berbeda bahkan yang bertentangan. Hal tersebut karena mereka yang berkuasa mempunyai suatu kecenderungan mempertahankan kekuasaannya (status quo), sementara mereka yang dikuasai mempunyai kecenderungan menentang terhadap mereka yang mempunyai kekuasaan.

Dahrendorf membagi kepentingan kelas objektif yang ditentukan secara struktural, yaitu (1) kepentingan manifest, ialah kepentingan kelas yang disadari individu untuk dicapai sebagai tujuan, dan (2) kepentingan latent (latent interest) ialah kepentingan kelas yang tidak disadari oleh individu. Selanjutnya, bertolak dari pengertian tersebut di atas maka dalam setiap sistemsosial yang harus dikoordinasi itu terkandung di dalamnya kepentingan latent yang sama yang disebut kelompok semu (quasi¬ group) yang mencakup baik kelompok yang menguasai maupun kelompok yang dikuasai.

Apabila kelompok semu tersebut mempunyai kesadaran dan mewujudkannya dalam suatu kegiatan untuk kepentingan bersama maka akhirnya akan memunculkan suatu kelompok lain yang disebut kelompok kepentingan. Oleh karenanya, lahirnya kelompok kepentingan itu bersumber dari kelompok semu. Hal ini dapat terjadi karena meskipun kelompok semu itu tidak mempunyai hubungan¬-hubungan sosial yang disadari, akan tetapi para anggotanya mempunyai kepentingan¬-kepentingan dan tindakan yang sama. Namun demikian, tidak semua individu dalam kelompok semu yang sama akan membentuk suatu organisasi yang mempunyai kepentingan yang sama.

Demikianlah tulisan saya kali ini, kalian dapat melihat dan membaca tulisan-tulisan saya berikutnya, misalnya Contoh-contoh Teori Neo-Evolusionism yang dapat kalian lihat disini. Terima kasih sudah membaca, terima kasih,
Salam_Dwi.

Referensi :
Referensinya,, hmm sobat cari sendiri yaah karena belajar sangat butuh pengorbanan berupa kerja keras membaca buku (jurnal, makalah, media dll), diskusi dan menulis sebagai pengaktualisasian diri kalian.

MARI themes

Diberdayakan oleh Blogger.